rumah makan bu bengat

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

rumah makan bu bengat

Post  Admin on Tue Feb 15, 2011 10:24 am

[img][/img]

Rumah Makan Ayam Goreng Gringsing Bu Bengat

Ayam Goreng Kampungnya Dimasak dengan Kayu Bakar

Rasa ayam goreng yang nikmat hampir disuka semua orang. Namun pengolahan ayam goreng juga turut mempengaruhi soal rasa. Ada sebuah rumah makan di jalur mudik Pantura yang menyediakan menu ayam goreng dengan rasa berbeda dibandingkan ayam goreng lainnya. Begitu pula sayur asemnya memiliki keistimewaan tersendiri. Namanya Rumah Makan Ayam Goreng Gringsing yang berlokasi di jalur mudik Pantura, tepatnya di Jl. Raya Kuto Sari Gringsing Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Jaraknya tak jauh dari kota Pekalongan. Sekilas tekstur menu masakan yang disajikan tampil bersajaha, namun rasanya wuihh… dijamin mampu memikat Anda. Ingin tahu seperti apa keistimewaanya?

Hari Raya Idul Fitri identik dengan mudik, yaitu aktivitas pulang kampung bagi kita yang tinggal jauh dari keluarga atau kampung halaman. Tak jarang biasanya umat Islam menggunakan momen ini sebagai ajang berkumpul bersama keluarga baik yang jauh atau yang dekat setelah lama tidak berjumpa.

Bagi Anda yang setiap tahunnya mudik lewat jalur Pantura menuju timur pulau Jawa, akan melalui salah satu kota di jalur Pantura yang termasuk jalur padat kendaraan saat mudik, yaitu kota Batang. Kota Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Kendal di timur, Kabupaten Banjarnegara di selatan, serta Kabupaten Pekalongan di bagian barat.
Bila akan menuju Semarang, setelah keluar dari kota Pekalongan Anda pasti akan melewati Batang, yang jaraknya sekitar 9 km dari Pekalongan. Di Pekalongan anda bisa untuk membeli oleh-oleh berupa batik antara lain di pusat belanja batik Pekalongan dengan telepon 0285 412091 dan Pusat Grosir Steno Pekalongan dengan telepon 0285 412090.

Sebagai daerah yang berada di jalur pantai utara, oleh-oleh khas yang paling banyak dijajakan adalah ikan asin atau kerupuk udang. Namun jika Anda kebetulan ingin singgah menikmati masakan enak di Batang, ada satu tempat makan yang bisa dijadikan rekomendasi. Yaitu Rumah Makan Ayam Goreng Gringsing Bu Bengat. Lokasinya berada di tepi jalan raya provinsi yang biasa dilewati kendaraan saat mudik lewat jalur Pantura, tepatnya di Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang. Di sebelah kanan rumah makan ini Anda bisa menikmati ayam goreng kampung dan sayur asam khas Gringsing.

Anda tak perlu khawatir dengan kondisi jalannya karena jalan menuju Gringsing bagus beraspal mulus, yang cukup lebar dengan dua arah empat lajur. Di sepanjang jalan sebelum sampai ke rumah makan ini juga banyak tempat makan lain yang bisa disinggahi, misalnya rumah makan Sendang Wungu sekitar 5 km dari Ayam Goreng Bu Bengat. Dan jika ingin mengisi bahan bakar kira-kira 3 km ke arah Semarang sebelah kanan jalan ada SPBU. Dan jika Anda terlewati jangan khawatir karena di perjalanan berikutnya di kiri jalan kira-kira 7 km lagi juga ada SPBU. Begitu pula ketika Anda sampai di Terminal Bahu Rekso Batang yang jaraknya kira-kira 8 km dari rumah makan ini, juga ada SPBU. Sedangkan untuk bantuan polisi bisa dihubungi di Polsek Gringsing yang jaraknya sekitar 200 meter dari tempat makan.

Nama Gringsing pada rumah makan ini diambil dari nama lokasinya yang berada di Kecamatan Gringsing. Dan karena berada di jalur mudik, Anda bisa menjangkaunya dengan mudah apalagi plang papan nama terpampang jelas bertuliskan Rumah Makan Ayam Goreng Gringsing Bu Bengat tepat di depannya.

Warna kuning tembok bagian depan dan krem di ruangan dalam membuat ruangan terlihat ceria. Rumah makan berlantai dua ini dibagi penggunaannya, di lantai atas khusus dipakai oleh pengunjung yang datang secara rombongan dengan kapasitas tempat duduk 150 orang, sedangkan di lantai bawah biasanya dipakai untuk umum dengan kapasitas 60 kursi. Tak jarang lantai atas pun dipakai untuk umum jika di bawah penuh.

Tampak terpampang jelas foto pemiliknya Bu Bengat dan suaminya, yang dipajang persis di dinding tembok di belakang kasir. Dan meski cukup terkenal, namun rumah makan ini tidak berniat membuka cabang. Bagi Anda yang ingin menjalankan ibadah, juga tersedia mushola. Areal parker rumah makan ini cukup luas, dan mampu menampung mobil dengan kapasitas 30 mobil .
Sesuai dengan namanya, rumah makan ini fokus menyediakan menu ayam goreng. Untuk menghasilkan mutu ayam goreng yang baik, menurut Sulih Prihatmo, alumni Universitas Islam Yogyakarta yang juga cucu Bu Bengat sebagai penerus pengelola usaharumah makan ini, ayam yang digunakan adalah jenis ayam kampung atau ayam Jawa yang usianya berkisar 5-6 bulan dengan bobot sekitar 9 ons. Ayam itu dipotong menjadi empat bagian.

Sedangkan untuk menghilangkan bau anyir suami dari Sri Nur Azizah ini mengaku menggunakan kunyit dan jahe pada saat ayam diungkep. Untuk menambah rasa gurih ayam ditambah serai, lengkuas, garam, bawang merah, tomat, ketumbar. Ciri khas lain yang membedakan ayam goreng Grinsing dengan ayam goreng sejenis adalah ayam goreng Gringsing ini tidak menggunakan bawang putih dan penyedap rasa yang biasanya ikut disertakan sebagai bumbu ungkepan. “Karena gurihnya ayam lebih banyak berasal dari bumbu dapur selain bawang putih,” ujarnya berbagai rahasia.
Memasaknya dengan Kayu. Agar bumbunya meresap dan dagingnya empuk, ayam yang telah dibersihkan diungkep selama kurang lebih satu jam bersama dengan bumbu yang telah dihaluskan diatas tungku kayu bakar dengan api sedang agar ayam matang secara sempurna dan merata. Dengan menggunakan kayu bakar saat memasak, aroma ayam gorengnya akan terasa berbeda dibandingkan bila memasak menggunakan minyak tanah. Bahkan untuk kayu pun tidak semua jenis kayu dipakai, karena untuk menghasilkan api atau bara yang bagus dan tahan lama haruslah kayu yang keras seperti kayu mangga dan kopi. Tungku yang dipakai pun tungku dari besi baja di mana panas yang dihasilkan merata.

Untuk melengkapi menu ayam gorengnya, rumah makan ini juga menyediakan sayur asem yang juga berbeda dengan sayur asem lain. Sayur asen RM Ayam Grinsing Bu Bengat memiliki warna kuah yang bening, tidak keruh yang biasanya muncul karena campuran air asam jawa atau bumbu yang dihaluskan. Untuk itu pria dua anak ini mengaku menyaring terlebih dahulu air asam jawa yang akan dipakai. Rasa segar sayur asemnya muncul karena tambahan irisan belimbing wuluh. Selain itu perbedaan yang mencolok dengan sayur asem Jakarta adalah sayur asemnya menggunakan tambahan daun seledri untuk memunculkan aroma kuat ditambah dengan daun bawang yang biasanya dipakai untuk memasak sup. Sehingga rasa kuahnya tak hanya ada rasa asam tapi juga ada rasa segar seperti kuah sup. Sayur asem Bu Bengat ini cukup menggugah selera saat menemani ayam goreng yang gurih dan empuk yang disandingkan dengan nasi putih hangat plus sambal terasi serta sambal uleg atau disebut juga sambal dadak.

Tak hanya proses memasaknya yang ia perhatikan. Tapi mutu bahan baku pun diutamakan untuk memanjakan lidah pelanggannya. Misalnya dari beras yang digunakan terasa pulen dan wangi karena ia memakai beras IR dan Pandanwangi.
Untuk minumannya meski hanya the, namun berbeda dengan the yang kita minum setiap hari, tetapi menggunakan merek teh Rakit produksi Pekalongan. Rumah makan ini membeli teh itu dari suppliernya yang ada di Klaten. Rasa tehnya agak sepet dan menghasilkan warna yang agak merah.

Meskipun mutu bahannya kelas satu, dan menggunakan ayam kampong asli, namun harga makanan di rumah makan ini cukup terjangkau kantong Anda. Untuk ayam goreng harganya Rp 8.000 per potong, nasi putih Rp 2.000, sayur asem Rp 1.500, dan sambal dadak Rp 2.000. Untuk minumannya berupa teh tawar, es jeruk sampai es roda gembira yang harganya berkisar Rp 800 sampai Rp 5.000. Untuk sambal terasi dan lalapannya tidak dihargai alias gratis.
Awalnya dari Jualan Ayam. Rumah makan yang berdiri di tahun 1952 ini dirintis oleh Bu Bengat. Sulih mengisahkan awalnya Bu Bengat sama sekali tidak punya bayangan menjadi penjual masakan ayam seperti saat ini. Tetapi saat itu ia tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan, sedangkan ia harus menghidupi 3 anaknya. Suaminya telah meninggal lebih dulu karena gugur di medan perang. “Beliau lalu memberanikan diri untuk membuka warung kecil-kecilan dengan pelanggan yang datang kebanyakan sopir-sopir angkot yang lalu lalang di sekitar sini. Modalnya waktu itu hanya sekitar Rp 50. Para pelanggan pada saat itu meminta nenek saya membuat ayam goreng khas Bandung oleh salah satu sopir dari Bandung. Kebetulan beliau pernah tinggal di Bandung sehingga tidak ada kesulitan untuk memenuhi permintaan sopir tersebut. Nah semenjak itu rumah makan ini berkembang dan menunya berkemang tidak hanya ayam goreng saja tetapi melengkapinya dengan menu lain yaitu sayur asem,” kisah Sulih panjang lebar.

Saat ini pelanggannya tidak hanya dari pengunjung yang kebetulan lewat jalur Pantura saja, tetapi banyak juga keluarga yang datang memang khusus menyempatkan diri untuk makan di sini. Selain itu, rumah makan ini juga mendapat tawaran kerja sama dengan pihak bus pariwisata. Bus tersebut selalu singgah di rumah makan itu saat melewati kota Batang, sehingga penumpangnya bisa makan di sana. Bagi pihak bus keuntungannya adalah biasanya kru bis mendapatkan makan gratis, selain itu juga biasanya kalau rombongan itu mendapatkan harga yang murah. Bus yang bekerja sama antara lain PO Nugroho dan Bestari Wisata. Bahkan kalangan selebritis dan pejabat pernah singgah ke warung miliknya. Sebut saja Menteri Agama Maftuh Basyuni, Menteri Koperasi dan UKM Surya Darma Ali, Didi Kempot, Ozy Syahputra, Gigi, Deri Lima Sekawan dan lain-lainnya.

Tak heran setiap harinya warung yang buka mulai jam 8 pagi hingga jam 10 malam ini menghabiskan 150 ekor ayam dan 300 ekor lebih pada saat menjelang Lebaran H-satu minggu dan H+satu minggu. Tetapi walau demikian ia mengaku tidak menambah jam buka atau karyawan. Sehingga rata-rata ia bisa menjual 600 porsi seharinya.

Ayah dari Alif Priza Ramadhan dan Elmo Alivin Ananta ini mengaku keberhasilan warungnya saat ini tidak hanya karena kerja kerasnya sendiri tetapi juga berkat dorongan keluarga serta 30 tenaga kerjanya yang setiap hari setia membantunya.

Untuk para karyawannya, Sulih memberikan gaji bulanan rata-rata sebesar Rp 500.000 per bulan. Dan dari hasil usahanya meneruskan usaha neneknya itu, Sulih mengaku sudah bisa membeli mobil untuk keperluan operasional belanja sayuran, membeli rumah,dan ditabung untuk hari tua.

Sementara itu untuk belanja bahan baku rumah makannya, seperti ayam dan sayuran serta bumbu dapur, Sulih membeli tak jauh dari rumah makannya tersebut yaitu di Pasar Weleri yang jaraknya sekitar 3 km.

Admin
Admin

Jumlah posting : 68
Join date : 12.02.11

Lihat profil user http://bebasbicara.indonesianforum.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik